Wednesday, 15 March 2017

Faidah Cinta






Anggun dirimu malam itu.
Leher jenjang dan simpul senyum bibir merah.
Di balut pakaian adat khas Mandar, ku dapati kata Malaqbiq dalam dirimu.
Andi Nurfaidah, dan Faidah Cinta.

Takkan lancang ku ucap kata cinta untuk kedua kali. Meski jelas tersisa guratan senyummu di bilik hati, biarlah aku mengakrabimu lebih dan lagi. Kala itu di sebuah sore, aku terduduk di anak tangga kesekian ketika tak sengaja ku dapati dirimu dan senyum malumu. Dengan jilbab kuning dan pakaianmu yang samar ku ingat, kau berhasil menyentuh titik terlemahku dan mengisi sel-sel ingatanku dengan wajahmu. Harusnya aku sudah mengenalmu karena keberadaan kita di pentas kebudayaan itu selama sepekan.Tapi acuh tak acuhku membuatmu terlewat seperti sekian banyak tokoh lainnya.

Waktu menunjukkan peralihan hari ketika namamu menghiasi notifikasiku. Kau menanyakan keberadaan lagu yang dulu ku cipta untukmu, Faidah Cinta. Lagu yang ku cipta sehari setelah sore itu, atau sekitaran 2 tahun yang lalu.

(Dengar lagunya dengan klik link ini -> https://www.reverbnation.com/mirzhadp/song/22760750-faidah-cinta )

Semenjak ku cipta lagu itu dan mengungkapkan rasa, kita akrab di zona maya. Seperti kali ini ketika kita saling bertukar kabar, bahkan potret dan janji temu suatu hari nanti. Realitanya kita tak sekalipun bertegur sapa, namun ada asa yang mencuat di balik ramah sikapmu.

Bila nyatanya pertemuan 2 tahun yang lalu adalah terakhir kali, datanglah perantara mimpi karena ku ingin menyentuh lembut pipimu, walau hanya sekali. Dengarlah lagu itu, biar kau mengingatku yang penuh tumpukan rindu, pria yang menatapmu di sore sekali 2 tahun lalu.
Share:

Sunday, 12 March 2017

Selepas IQ 84





Sebenarnya, aku sangat bersemangat menyambut hari esok. Hari pertama kuliah yang artinya hari pertama ku akan melihatmu lagi setelah hampir 2 bulan lamanya. Meski ku tahu kau pasti tetap dengan sikap pasifmu, aku tetap ingin melihatmu dan duduk di belakangmu, seperti dulu.

Sebelum malam ku tulis semua ini, aku sudah mengirimu pesan setelah sekian lama tak melakukannya. Yeaah, melepas rindu, sebut saja seperti itu. Cinema kemarin menghadirkan siluet wajahmu, atau buku Garis Waktu dan Kepingan kaset Kevin and Redrose yang makin menguatkan tumpukan rindu.

Yang Kemarin masih tetap memilikimu. Dan aku, Tokio yang merindukan Watanabeku, masih enggan untuk melupakanmu. Dengannya kau lebih lama, bahkan ketika denganku kau masih menyimpan rasa yang sama. Namun, aku masih syukuri sedikit cinta yang ku yakinkan itu, dan beberapa kesempatan melihat senyummu seintim dulu.

Aku tak pernah bosan menulis hal yang sama. Pendek-panjang tulisanku tentangmu mungkin sudah bosan di baca oleh mereka yang sempat membaca. Atau lelah otakku menggali terus-menerus kenangan yang sama. Bagiku, mengingat semua tentangmu adalah rasa nyaman. Dan, melupakan tentangmu adalah sebuah kesalahan.

Dariku, yang tahu kau takkan membaca tulisan ini.
Tokio.

Share:

Saturday, 11 March 2017

Tentangmu dan Haruki Murakami


1        
Senin, 11 Juli 2016,aku dan Cahaya janjian bertemu di sebuah tempat perbelanjaan ternama di kota Makassar, seminggu setelah kami bertemu di sabtu sore, makan dan berbincang laiknya pasangan kekasih lainnya, sebelum akhirnya berpisah untuk kembali ke kota asal.
*
”Selamat pagi wanita yang sok sibuk selama liburan kemarin”, tulisku dalam pesan singkat yang tak lupa di akhiri emoticon pelukan.
“Hahaha, pagi, kan sudah sewajarnya?”, timpalnya santai setelah sekian lama ku tunggu balasannya.
            “Kau sudah makan?”tanyaku.
            “Yah,biskuit selamat dan angin yang mengenyangkan”
            “Hari ini aku mau nonton, sekalian makan siang, mau ikut?”
            “Entahlah, sebentar aku kabari.”.
             
Mau tak mau hari itu aku memang ingin keluar, menonton film yang sudah lama ku nantikan, Kuala Kumal,film komedi galau yang di dasari novel karya si comica ternama.
*
            Pukul 2 siang aku sudah menuju pusat perbelanjaan tersebut, dengan kaos oblong hitam yang dalamannya berlengan panjang, celana biru longgar dan sepatu hitam vans kw dengan harga yang paling murah tentunya. Tempat tersebut rupanya masih agak sepi, mungkin karena hari ini hari pertama orang-orang beraktifitas kembali setelah libur Hari Raya. Tak banyak pikir, aku langsung masuk di restorant makanan cepat saji, antri beberapa lama sebelum akhirnya memakan cheese burger dan ayam goreng, menyumpal cemoohan cacing yang memang belum di beri jatah makan.
            Aku mengecek notifikasi, belum ada pesan darinya, dan tak ada jadwal lain selain untuk menunggunya. Aku kirim pesan lagi, bertanya kapan dia datang sebelum akhirnya aku pergi untuk mengecek tiket di bioskop yang ada 1 lantai di atasku.
            Aku masuk di tempat yang tiketnya di jual lebih murah, menghemat anggaran pikirku. Tempat itu sudah di sesaki antrian pembeli tiket, lebih mirip pasar tradisional ketimbang bioskop. Aku gerah dan agak sulit bernafas, akupun pergi setelah mengecek jadwal pemutaran film yang ingin ku tonton.
            Aku tiba di lantai 3, tempat yang lebih elegan dengan biaya tiket yang lebih mahal tentunya. Sialnya, antrian lebih panjang dan sesak di banding tempat sebelumnya. Dan paling penting, film yang ingin ku tonton pun tak tayang di tempat ini. Benar-benar hari yang menyebalkan.
”Baiklah,aku terpaksa kembali ke pasar tradisional itu”, pasrahku.
Aku antri hampir sejam, membeli 2 tiket di seat H 8-9, sambil terus menunggu kabar dari Cahaya yang ternyata baru selesai mandi. Sudahlah, aku berkeliling saja, ketimbang mati bosan melihat orang-orang seperti mereka di tempat sumpek ini. Di dekat pintu keluar aku di tatapi malu oleh seorang gadis putih, cantik, dengan senyum yang menarik. Setengah badanku sudah melewatinya acuh sebelum ku lihat pria yang berdiri di sampingnya, Ayyul, seniorku di kampus yang ku salami, pertemuan kedua dengan mereka yang tampaknya memang memadu kasih.
*
Aku mendadak masuk ke gramedia, sekedar melihat-lihat koleksi buku sambil menunggu Cahaya yang sudah dalam perjalanan. Ada Lelaki Harimau dan Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan, sejumlah buku karya Tere Liye yang di khususkan, dan juga Norwegian Wood yang belum ku tamatkan. Aku lama berkeliling mencari buku yang benar-benar pas di genreku, sempat bingung antara membeli atau tidak buku tentang kisah jilid 2 Sherlock Holmes yang terpaksa di bangkitkan dari kematian, sebelum akhirnya memilih IQ 84 karya Haruki Murakami tapi hanya jilid 1, dengan perjanjian kakakku yang akan membeli 2 jilid selanjutnya.
“Aku sudah di bioskop elegan ini”,tulisnya yang baru ku baca 5 menit kemudian.
“Aku di Gramedia”,egoismeku muncul.
Aku melanjutkan berkeliling mencari buku kedua, sesekali mengecek apakah Cahaya mengirim pesan balasan. Aku masih berdiri melihat-lihat buku koleksi Tere Liye sebelum Cahaya datang. Ia mengenakan reglan putih berlengan pink, celana ketat biru yang sering ku lihat, dan sepatu adidas putih yang nampaknya baru ia beli.
“Kau sendiri?”,tanyaku basa-basi.
“Ya.”,jawabnya singkat.
“Kenapa kau disini?”protesnya.
Aku tahu betul maksudnya, keberadaanku di sini akan memaksanya ikutan membeli buku, menghidupkan jiwa sastranya yang lama hilang. Ia pernah punya keinginan menjadi penulis, membaca sejumlah buku dan genre semasa SMA, sebelum mimpinya sirna entah mengapa. Makanya aku tak heran, bahkan tersenyum ketika dia berkeliling dan mencari buku yang dia sukai. Hampir 30 menit aku menemaninya mencari, sebelum pilihannya jatuh pada salah satu karya Tere Liye, membuatku melupakan buku kedua yang sedang ku cari.
Kami kembali ke lantai 1, menuju restoran yang ada di pojok kiri pusat perbelanjaan tersebut, memberinya kesempatan makan siang di sore sendu, sekalian duduk bersantai untuk memulihkan kekuatanku. Ia memesan nasi ayam lada hitam dengan es coklat, cemberut ketika ku tak makan dan hanya minum panas coklat.
“Kau membawa headset?”,tanyaku.
“Ia hanya mengangguk pelan”.
Aku memang berpesan agar ia membawa headset,ingin ku perdengarkan lagu yang selama liburan coba ku rampungkan, terinspirasi darinya, memang untuknya. Ku download dan ku putar lagu tersebut, headset yang kiri untukku dan kanan untuknya :

“Ku temukan celah dalam diriku yang kau tutupi dengan senyum indah
 Kau pulihkan semua luka yang dulu ada.
Hempaskan aku dalam lubang kebahagiaan
Kudapati nyata bayangmu dalam tuju mata kemanapun aku pergi
Temani aku,temani aku.
Mengejar cahaya,mengejar cahaya.
Sebut namaku,sebut namaku.
Mengejar cahaya,mengejar cahaya.
Genggam tanganku,nyata mimpiku.
  ( Lagunya bisa di dengar dengan mengklik link ini https://www.reverbnation.com/Serotoff/song/26252722-cahaya

Lagu yang simple, dengan aransemen music full band plus alunan elektro, terdengar mirip Do It For Me Now atau Secret Crowd karya Angel and Airwaves. Aku sedikit malu mendengar suara pas-pasanku yang seolah ku pamer, dan sedikit kecewa karena ia tak mendengar baik lagu yang kuputar itu.
Ia banyak terdiam seperti biasa ketika ku tak memulai pembicaraan, memandang orang-orang yang berlalu lalang. Ku pinjam handphonenya dan tak menunggu jawaban ku buka pesannya, tak mencurigakan, ku buka galerinya, mendapati photonya yang kebanyakan tanpa jilbab dengan senyum lepas penuh kebahagiaan, sejumlah photo cewek-cowok temannya, gambar sok tegar dengan kata yang miris, juga photonya dengan seorang pria dengan mulut yang tertutupi. Ku rasakan pancaran kebahagiaan dari mata mereka berdua, berlatar putih. Ku letakkan hape itu dengan gambar yang masih sama, ku yakin ia pun melihatnya, membuatku bernafas berat beberapa saat. Aku cemburu, aku terluka, akhirnya dugaanku berubah jadi fakta.
“Ini mantanmu?"
“Tidak.Ya,dia mantanku”,jawabnya ragu.
“Kenapa kalian putus?,”
“Ia jalan bersama mantannya, satu-satunya hubungan yang ku akhiri terluka, ketika ku mulai untuk menerima dan mencintainya setulusnya”,tegasnya.
“Berapa lama kalian pacaran?”.
“Tak cukup lama, tapi aku selalu menjalin hubungan dengan orang yang sudah lama mendekatiku, seperti Firman teman lamaku.”, jawabnya dengan pandangan tetap ke arah orang-orang yang memasuki pusat perbelanjaan.”
Untuk nama terakhir aku memang menduganya,terlalu jarang ku jumpai wanita yang tidak memiliki perasaan terhadap cowok yang di kenalnya sekian tahun, seperti kisah Kizuki dan Naoko di Norwegian Wood-nya Haruki Murakami.
Perasaanku sebenarnya sangat kacau, cemburu sangat terhadap lelaki yang mendapatkan hatinya namun justru meninggalkannya, aku yang kini masih mengejar Cahaya.
Lelaki itu tak pernah ia sebut namanya, hanya menyebutnya Yang Kemarin. Kulitnya putih, rambutnya lebih panjang dariku, terlihat seperti pria muda umumnya, hanya saja semacam ada yang menarik dari auranya, ku baca dari pancaran bola mata hitam di photo tersebut.
*
Semenjak malam pertama ia ku dekati, membantu urusan organisasi yang ku masuki, memperdengarkannya lagu Faidah Cinta yang rekamannya masih amatir, mengucap kata cinta untuknya yang kurang ku kenal kecuali sebatas teman pendiam di kampus, menemaninya pulang hingga di bibir gang, pulang tersenyum dengan cinta yang tak terjawab, aku benar-benar gila karenanya.
Aku di bius Chupid, memikirkan dan mencari tahu apapun tentangnya, tertidur dengan pikiran menjuntai, nafas yang berat di setiap hembusannya. Pernah sebulan aku menjadi zombie, berat badan turun selurus nafsu makan yang tak ada, tirus muka menunjukkan geraham dan tonjolan tulang pipi, aku di hantui bayangan Cahaya yang tak mampu ku miliki.
*
“Jeni yang memberitahumu?, tanyanya tentang hubungannya dengan Firman yang ku ketahui.
“Tidak, Jeni dan aku hanya membahas sesuatu topic, tak ada hubungannya denganmu.”, seruku pelan.

Jeni adalah salah satu teman dekatnya, satu-satunya yang cukup dekat denganku, menurutku. Orangnya pendek, kulit sawo matang dengan lesung pipi yang manis, memiliki hubungan dengan seorang pria yang lebih muda darinya, cerewet dalam pembawaan dan sekalipun aku belum pernah bertemu dengannya aku bisa menyimpulkan itu semua dari beberapa kali chat dan informasi yang di berikan Cahaya.
Aku lama terdiam setelah pembicaraan itu, perang batinku makin sengit, ku dengar lagu melow yang selalu menemaniku ketika datang saat seperti ini. Mungkin Awake atau sejumlah lagu dalam album Awake dan A Twist in My Story-nya Secondhand Serenade, sejumlah lagu Aksi Madewa yang punya kedekatan denganku, atau lagu yang tak asing di telingaku meskipun kadang-kadang ku lupa band-atau judul lagunya.
“Bukannya aku justru merasa hidup ketika seperti ini? Di jatuhkan harapan yang terlampau tinggi menjulang, di patahkan hati oleh rasa yang mendalam? Bukankah sudah ku dapati wanita yang ku cinta berjalan di pantai yang sama dengan kekasih barunya, dan ku menyapanya? Apa ku lupa tentang kekasihku yang juga mencintai sahabat terdekatku? Atau tentang si kecil yang memutuskanku ketika ku sedang sayang-sayangnya?”
Sisi putihku coba menegarkan, topeng senyum kembali kugunakan.
“Apa kau tak mempercayaiku? Maukah kau membuka hatimu untukku?, tanyaku sambil ku genggam tangannya ragu.
Dia menatapku sesaat.
”Jujur saja aku tak mempercayaimu”, aku sudah mendengar tentang kau dan Wanda di semester lalu.

Setelah mendengar jawabannya, melihat tangannya yang gemetaran entah  karena genggamanku di tangan satunya, atau  karena kisah lamanya yang ku ungkap darinya, aku merasa pembicaraan sudah terlalu berat, ku memutuskan mengajaknya pergi, kebetulan filmnya sudah hampir tayang.
Sepanjang pemutaran film aku tak pernah mengajaknya ngobrol, urungkan niat photo berdua seperti janji di pertemuan sebelumnya, hanya sesekali menoleh padanya, melihat senyumnya yang kembali lepas, Tuhan betul-betul menempatkan dirinya di tubuhku, di aliran darahku.
Pukul 8 lewat film selesai, aku menyentuh punggungnya pertanda saatnya kami beranjak, berjalan lambat di dekatnya. Sesekali ku biarkan dia di depan agar tak ada yang mencoba mengambil kesempatan di keriuhan itu, menyentuh pipinya sayang dengan telujukku, dan menuju pasti ke tempat parkiran kami harus berpisah.
“Biarkan aku yang membawa bukumu,tunggu aku di rumahmu”,pintaku.
Aku meninggalkannya menuju motorku yang ada di parkiran sebelah, memilih jalan memutar, sebelum ku dapati dia di Jalan Hertasning, mengawasinya dari belakang, seperti biasa aku melakukannya.
Ia sudah melepas jilbabnya dengan raut wajah yang berbeda dari sebelumnya, aku memang tertinggal beberapa saat karena singgah membeli minuman. Ia hanya mengambil bukunya ketika ku datang. Wajahnya nampak pucat, mungkin benar dia akan demam seperti katanya sewaktu di restorant.
Aku sebenarnya kecewa, skenarioku mengharuskan aku berdiri di depannya, tepat di bibir pintu masuk rumahnya, menggenggam tangannya lembut, menyentuh pipinya sayang, membisikkan kata cinta, matanya ku tatap dalam, namun akhirnya aku hanya mendeham.
Di perjalanan pulang penyakitku kambuh. Ingatan kuat tentang apapun yang melukaiku. Photonya dan sang mantan yang masih tersimpan baru, putih dan bahagia.
“Will you stay awake for me?
I don’t wanna miss anything,I don’t wanna miss anything.
I will share the air I breath,I’ll give you my heart on a string.
I just don’t wanna miss anything.”
Tiba-tiba aku menyanyikan sepenggal lagu dari Secondhand Serenade, cocok atau tidak dengan perasaanku sekarang tak ku peduli, yang ku tahu setetes air mataku mengalir, luka yang ku simpan tak mampu lagi ku tahan. Andai orang-orang tahu mereka pasti akan menertawaiku, seorang pria yang menangis hanya karena wanita yang belum ia miliki. Sepanjang perjalanan pulang aku kacau, tak ku dengar riuh kendaraan lalu lalang, hanya ku ikuti pancaran cahaya dari kuning lampu motor Fino-ku.
Ku hentikan motorku di sebuah taman kecil, mencoba memotret langit yang cerah dengan bulan yang kali ini sabit, hasilnya tak memuaskan. Aku meminum teh dingin yang terpaksa ku beli sebagai pengganti kopi, menghembuskan nafas yang semakin berat, memposting sebuah gambar ilustrasi Watanabe yang memeluk Naoko di bawah pohon, mirip denganku saat ini minus Naoko-ku, captionnya ku tulis seperti ini :
“Untukmu cinta,sengaja ku posting tentang buku Norwegian Wood yang belum selesai ku baca.
Aku hanya ingin berterima kasih untuk kejujuranku yang kau dengarkan, kejujuranmu yang kau utarakan, untuk keberadaanmu di sofa merah kuala kumal, dan untuk gerakan tanganmu yang tak adil ku genggam. Maafkan pula hari ini ku tak banyak bicara, tak mampu membuatmu tertawa. Ampunkan ketidakromantisanku akan perilaku dan segala cara, tentang lagu yang ku cipta hanya untuk membuatmu percaya.
Dariku yang pertama kali duduk di taman ini,Watanabe yang merindukan Naoko.”
Aku pulang selepas postingan tersebut, membaca Norwegian Wood hingga mengantuk, dan terbangun dengan perasaan yang sama di seperempat malam, Cahaya dan Mantannya, Cahaya dan orang yang di cintainya .
2
Aku terbangun pukul 11 siang, mengecek notifikasi tentang janji asistensi di kampus jam 1 siang, dan berharap ada kabar dari Cahaya tentunya. Apapun yang terjadi, aku menerapkan peraturan tersendiri, ”Jangan menunggu kabar,berilah kabar.” Dan seperti biasa, Cahaya akan mengirim pesan sebagai balasan.
Aku merasa nestapa, hari ini ingatanku makin nyata dan seolah menatapku di setiap kedipan. ”Aku ada,aku ada”. Sebenarnya aku sudah curiga sejak awal tentang adanya pria yang belum pergi dari hidupnya, hidup Cahaya. Nampak jelas, tapi tetap saja menggores sudut hati yang mencoba pulih. Aku bergegas mandi untuk menyegarkan diri, sarapan sekaligus makan siang, dan ke kampus dengan rute memanjang.
Hampir 2 jam aku di kampus, menunggu teman, menunggu dosen, dan berakhir gagal asistensi. Suasana kampus tak kalah sepi denganku, hanya ada beberapa motor terparkir di bagian timur, gedung 4 lantai hanya di jumpai segelintir mahasiswa dan dosen yang menyetor nilai, akhir semester yang menjengkelkan.
*
Aku memilih singgah di sebuah kafe langganan ketimbang pulang di hari yang masih panjang, minum kopi Vietnam drip, duduk di pojok mengademkan diri, dan mulai membaca Norwegian Wood lagi. Pikiranku mulai teralih sebelum terdengar nyaring lagu-lagu patah hati dari The Beattles, aku tak mendapati kata seutuhnya, tapi melodi dan penegasan dalam penyebutannya sudah cukup meyakinkan, semua sedang memainkan perasaanku. Selanjutnya ada Noah, Nidji, The Script, dan semuanya menyanyikan lagu dengan tema sama, sakit karena cinta, Tokio yang terluka.
*
Rabu siang aku ke kampus dengan rute biasa, melewati genangan air di se panjang jalan Mamoa yang sempit, memutar di Jalan Alauddin sebelum belok kiri menuju Tamalate, melewati pasar ikan di sepanjang emperan jalan depan Kampus FIP Universitas penghasil guru, dan terus menuju kampus setelah memasuki rute lurus Hertasning-Tun Abdul Razak-Aroepala-Samata.
Di parkiran sudah ada Hilda dan Rifa, mahasiswi kelas A yang entah menunggu siapa. Aku yang sebelumnya menjemput Dewi berbicara sejenak dengan mereka sebelum naik ke lantai 3 gedung Fakultas, menunggu kawan lain untuk asistensi di ruang jurusan.
Pukul setengah 2 siang kami baru asistensi selepas makan pangsit di pinggir jalan bersama Icha dan Halima yang datang belakangan. Wawan datang saat asistensi berlangsung, Mei-mei yang kerja laporan tiba sesaat sebelumnya. Kami di asistensi oleh Kak Fadil, begitu kami memanggil. Tinggi putih dengan rambut di potong rapih, kemeja lengan pendek dan celana kain hitam, tanpa sepatu, bertelanjang kaki di ruang yang kali ini sangat sepi. Ia cukup populer di kalangan mahasiswi angkatanku, pria cerdas, baik, santai dan ramah. Dian teman kelasku sering bercanda bahwa dia akan di nikahi oleh Kak Fadil, dan celaan kami selalu mengikuti. Tak lama proses corat-mencoret kertas itu berlangsung, asistensi selanjutnya cukup lewat email, tak perlu ke kampus dan buang-buang kertas. Aku sholat dhuhur di musholla kampus, yang lain menghilang bagai tulisan di atas pasir yang tersapu ombak, tanpa bekas tanpa pamit.
Seperti biasa aku menuju warkop untuk menghabiskan waktu, hari masih terlampau panjang untukku pulang, internetan santai sambil nge-vietnam drip, baca buku yang kali ini IQ 84, dan memandangi sekitar yang nampak klasik dengan kopi yang aromatic. Aku baru ke tempat ini, sofa krem eksklusif di depan bartender, kursi plastik hitam berkerangka besi yang masih bersih, interior unik dengan pencahayaan yang kuning-oranye, pria paruh baya berkaca mata yang nampak serius memandangi laptop di depanku, pemilik cafenya wanita yang sedang sibuk menulis dan mengurusi kertas-kertas entah apa di belakangku, dan pria klimis yang bermain poker 2 kursi di sebelahku. Tempatnya nyaman, meski agak panas karena kipas yang tak berputar seutuhnya dan AC yang tak di nyalakan di sebelahnya.
Sedikit ada yang mengganjalku, perasaan aneh yang selalu menghampiriku, dada yang sesak dan enggan bernafas normal, mata yang melihat jauh melebihi waktu yang berputar, dan perasaan ingin berteriak yang tak mungkin ku lepas. Aku butuh sendiri tanpa pandangan orang-orang, aku butuh nyanyian dengan penuh perasaan, aku butuh gitar akustik dan taman Bohemia. Ku paksakan kesadaran dan memilih pulang di tengah kemacetan, pukul setengah 5 sore, jadwal kepulangan pekerja kantoran.
Aku tiba di rumah pukul 5 sore, mandi dan sholat ashar, menyalakan laptop dan memutar lagu-lagu yang sudah sempat ku rekam. Ku dengar Benarkah, lagu yang ku cipta dengan tema kemuakan akan keserakahan manusia, di iringi teman bandku sewaktu masih tergabung dalam Toriny Band.
*
Tidur untukku semakin lama semakin mengerikan. Tidur jam 1 malam dan terbangun sejam kemudian. Tentang kau dan mantanmu, tentang ku yang terburu-buru, tentang tanganmu yang ku genggam ragu. Aku di hantui, tentang ingatan yang membebani hati, nyanyian lirih nyaris tak bersuara, komunikasi dengan suara hati atau mungkin pikiranku sendiri. Untuk melihatmu aku cukup menutup mata, gigimu putih besar-besar, gingsulmu manis, lesung pipi favorit, muka tirus selurus tubuhmu yang kurus, rambutmu terurai panjang yang kadang kau tutupi, kulit putih yang kau rawat selalu, jemari mungil yang selalu membuatku bergetir, kau si mungil dari pulau kecil. Tentangmu selalu bisa ku putar waktu, hadir kembali melihatmu di dekatku. Jeneponto dan sedikit sentuhan yang ku anggap pelukan ketika ku menjemputmu melawan dingin dan sejumlah tanya tatapan, bening matamu ku tatap dalam di restoran steak sehabis safari di kota kepulauan di awal malam, perubahan air mukamu yang tak jarang membuatku termakan perasaan.
Tentangmu imajinasiku selalu beradu, konser besar yang kau hadiri bersama teman-temanmu. Aku mengenakan celana hitam dengan sepatu casual senada, kaos oblong putih dan kacamata, berdiri paling depan dengan gitar akustik Ibanez yang ku mainkan, Cahaya live konser. Musik elektro di mulai oleh sang Sound Engineer, panggung gelap tanpa lampu, kau berdiri bingung bersama temanmu. Aku muncul di ikuti sorot lampu, hijau-merah berganti, intro aneh dengan chord hanya D mayor. Verse ku nyanyikan, sang gitaris utama, pemain bass dan drummer bermain bersamaan, panggung terang kali ini. Semua berjalan lancar, ku tatap matamu dalam setiap bait yang kunyanyikan, ”Ini lagumu, ku cipta untukmu, cerna inginku”. Sang gitaris utama memulai aksi solois melody, histeris ritmis, aku melepas gitar, membiarkannya bergelayut di depanku, ini bagian Bridge, Reff yang ku nyanyikan pelan, berat, inti dari semua ini, Tokio yang masih mengejar Cahaya. Atau tentang kau yang menangis pilu di tengah gelap, sendiri, terikat cinta yang dulu tersakiti. Aku memandangmu dari jauh, memberimu waktu melepas semua beban, sebelum akhirnya ku hampiri mu, mengusap air matamu dengan telunjuk kananku, memberimu sebotol the oolong, dan tanpa bicara memelukmu, merasakan semua sakit yang kau alami dulu.
Aku setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa, ”Terlalu sempit jika mengatakan Cinta sebatas aku dan kamu saling memiliki”. Tapi, terlalu naïf jika mengatakan aku tak ingin memilikimu seutuhnya. Setiap melihatmu ada nampan yang terisi, di saat tanpamu ada lubang di hati. Bagaimana bisa aku mencintaimu sebesar ini? Bagaimana bisa aku sesakit ini dengan ingatan tentangmu dan masa lalumu? Tentang pria yang lebih tua dan meninggalkanmu? Jawabannya takkan ku jumpai, Aku, Tokio si nama samaranku, telah membulatkan hati untuk mencintaimu.
*
Cukup lama aku tak menulis tentangmu. Jarak antara kitapun tak lagi terukur. Ada begitu banyak keadaan dan alasan. Dan sedikit ketidaksabaranku adalah penyebab semua itu. Kita telah semester 4, terpisah 2 semester dari cerita hebat kita. Kau kini kembali bersama Yang Kemarin, aku tetap sendiri. Ada 2 wanita terakhir yang ku dekati, namun semakin lama semakin ku sadari semuanya tak berarti. Aku merindukan tatapan matamu, bulat hitam yang selalu di akhiri senyuman. Aku merindukan pipi tirusmu yang tak hentinya ingin ku sentuh. Aku merindukan tanganmu yang gemetar terakhir kali ku genggam malu. Cahaya, andaikan aku bisa kembali merasakan semua itu, takkan ku tuntut status hubungan ini lagi.
Share:

Thursday, 9 March 2017

Sebuah Surat Untuk Ilios


Ibadah di penghujung malam ini lagi-lagi tak menemui kata khusyuk. Kali ini, terlintas keinginan untuk menulis tentangmu. Wanita yang hampir ku unfollow di jejaring sosial, wanita yang baru lepas dari pingitan, nampaknya.

Ku panggil kau dengan nama yang kau benci. Ku tegur kau karena style mu yang terlalu British. Dan seperti yang kau katakan, ada perubahan jelas dari sikapmu seiring perubahan status ke-pelajaran.

Ku tahu kau sebenarnya anak yang baik. Ku tahu sesungguhnya kau anak yang penurut. Hanya saja ada beberapa hal yang takkan ku tulis yang menjadikanmu berubah.

Pun tak ku salahkan sesuatu yang menutupi pijar matamu. Atau sulam bibirmu yang kemerahan itu. Kau hanya kurang perhatian, kau butuh sesuatu lebih dari sekedar ucapan sayang.

Andai saja semua tulisanku ini salah. Atau terlampau lancang ku menilaimu. Maafkanlah. Aku hanya tak mampu melihatmu di tatap erotis oleh pria-pria itu.

Aku hanya sayang. Bukan sesempit kita terikat dalam status hubungan. Tapi, cukup melihatmu terlihat baik di mata orang-orang.

Dariku, Tokio yang mengakrabimu beberapa hari terakhir.
Share:

Thursday, 15 December 2016

Pilogenik

Ku tak pernah menatapmu lebih dari 60 detik. Atau bahkan kurang. Dan kacamataku, pembatas antara keburaman dan kejelasan, merekam penuh wajahmu, tepat sebelum kau berbalik meninggalkan pilogenik.
Share:

Wednesday, 14 December 2016

Heartisme

Entah  pelomina atau apa namanya. Aku tiba-tiba teringat pada Minke dan Annelisse-nya. Minke si pelomina, pria yang biasanya mampu menaklukan wanita dalam sekejap mata, tak berdaya di hadapan Annelise. Aku yang selalu meninggalkan wanita di tengah kebosanan setelah beberapa bulan, gagal dalam beberapa kisah terakhir.

Dan kau, yang ku harap tinggal mengutarakan rasa di bentur tembok tinggi, hempaskan rasa ke jurang dalam. Aku tenggelam, dan setelah ini semua tak lagi sama. Tentang kekakuan dan ketidakmampuan menatap matamu lagi.

Kau yang bersembunyi ketika melihatku, dan tersipu ketika ku melihatmu. Bisikan sahabatmu ketika ku datang di acara itu, dan keengganan ku melihatmu karena alasan tertentu. Semua definisi cinta yang ku tahu sudah kau isyaratkan, namun akhirnya ku kembali menahan napas dan meninggalkan beban berat di otak, kau lebih dari pikiran yang selalu teringat.

Aku bukan minke, tapi kami sama-sama pelomina. Aku bukan Minke, dan ku lupa cara mengartikan isyarat cinta.
Share: