Friday, 5 January 2018

DEBAR (3)


Rupanya kau menjalar terlalu dalam. Menari-nari di amygdala. Memanggil-memanggil. Meninggalkanku mencari-cari. 

Angin tak lagi memberi kabar. Elang terbang entah ke negeri apa. Abu sisa bara telah hilang ke udara.

Rindu mengetuk-ngetuk. Minta disegerakan padamu. Lalu bagaimana? Menanyakan kabar saja nyaliku ciut. Malu menggebu.

Sutradara itu juga entah kemana. Ia tak lagi semena meminta kau berubah peran. Atau menarikmu ke taman bunga matahari.

Terpakur. Lantah. Sayangnya aku hanyalah tokoh. Tak punya kuasa. Andai sutradara, sudah pasti kita selamanya berada di orbit yang sama. 

Kau benar terlalu beresiko. Membuka pintu pada rindu untuk segera masuk pun butuh bantuan semesta. Menunggu tangan putihnya menulis dialog kita. Menunggu segala kemungkinan-kemungkinan.






Share:

Thursday, 4 January 2018

DEBAR (2)



Sutradara itu membangunkanku di menit pertama. Kala dalam posisi memelukku, lembarannya terlipat satu. Sutradara menyodorkan naskah.

Dalam kuasanya penuh, dia lemparkan diam. Kau tunduk. Juga aku. Lalu hening padamkan bara. 

Gelap seruangan. Lalu kita saling mencari. Kau dan elang menuju utara. Aku dan angin ke arah sebaliknya. 

Sutradara membuka lembaran naskah lalu menarikmu ke taman bunga matahari. Aku masih di tengah-tengah.

Angin memberi kabar. Hening padamkan bara. Tapi, bara menyisakan abu. 

Kutemukan kau yang sedang memetik satu. Di padang luas, kau berikan aku. Kuning hitam yang ku simpan sebagai benda pengenalku. Dan kau, menjadikannya sebagai wajahmu. 
Share:

Wednesday, 3 January 2018

DEBAR



Bersama mereka, kau sudah lama jadi tokoh-tokoh dalam cerita. Protagonis minimalis. Sedikit dialog tapi dekat dan pantas disedihkan ketika dialogmu habis. Sepantasnya makhluk sosial, kau orang berkelompok. Gadis-gadis pendengar.

Lalu sutradara meminta peran berbeda. Dan dari naskah di tangannya, dia percikkan api yang membakar. Dalam ketakutan, tanpa sadar, kita berdiri terlalu dekat. 

Dalam sesi berbeda, angin berkabar. Kau bercerita. Lalu ku debar. Mengartikan isyarat terlalu berat. Dan angin beterbangan bisa saja terlalu jauh dari asal hingga potongan panjang ceritamu berakhir jadi potongan pendek cerita yang sampai ke telingaku. Tanpa gerakan tangan sutradara, semua kemungkinan selalu menyiapkan tempat untuk kesalahan. Dan kesalahan tentangmu terlalu beresiko. 

Ku harap tak menjalar terlalu dalam. Karena awal malam selalu menawarkan ingatan yang pelan-pelan di dramatisir. Dadaku penuh. Debar tentangmu.

Sutradara yang sibuk menulis cerita bisa saja telah hanyut hingga lupa bahwa kau adalah protagonis minimalis. Dan kita adalah baris-baris tulisan tangan putihnya. Kuasanya penuh. Dan kita patuh.



Share:

Sunday, 24 December 2017

Kopi Dinihari



Selalu ada melankolis setelah pergantian hari. Apalagi ketika terjebak tidur di jam tanggung dan terbangun di masa peralihan. Selalu ada cerita sendu yang bisa diceritakan. Atau tulis jika tak punya lawan bicara. Atau dialog dengan diri sendiri jika segitu introvert-nya. Atau baca buku jika punya yang pas. Atau dengar lagu bertempo pelan. 

Seperti malam ini. Ketiduran setelah membaca novel supernova di jam tanggung. Terbangun di masa peralihan dengan perut keroncongan. Dan hening yang selalu meminta ingatan di ceritakan kembali. Akan ku ceritakan sebuah kisah melankoli.

Aku baru saja berkeliling kota mencari kopi. Lalu kuingat judul novel Puthut EA, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. Aku belum pernah membaca apalagi membeli buku tersebut. Tapi, aku sependapat. Aku pernah segitu sayangnya pada sahabat dan wanita di kisah percintaan segitiga. Aku pernah begitu bahagianya bersama Cahaya lalu galau berkepanjangan. Aku bahkan, mungkin saja, jatuh cinta pada mereka yang begitu baiknya membantu mengerjakan tugas kuliah.

Aku memeluk kedua lutut. Menatap rumah yang sering ku abai seruannya. Mengepulkan asap yang akhir-akhir ini begitu akrab. Kata kek Sapardi, Hening Abadi. Kiri gelap-gelap. Kanan redup pendar. Aku merasai telapak tangan lembut membelai pipi kotorku. Lalu rambut acakku. Oh mayaku.

Earphone membisiku pelan. We walk likes nothing wrong. Echosmith. Aku memang sering berjalan santai seolah tak ada yang salah. Lalu hening abadi. Lalu melankoli lagi. Lalu sendiri menyesap kopi. Lalu mengasapi. Lalu kau membelai pipiku lagi. Sesekali berdiri tepat di depan wajahku, membauiku. Lalu tersenyum. Lalu beranjak hilang. 

Kupegang kepalaku. Tengadah. Ada lampu yang setia menyinari malam. Dan membentuki benda mati. Dan menatapku iba berteman sepi.
Share:

Thursday, 21 December 2017

Rav

Nyata di linimasa
Tersenyum tanpa cela
Tatapnya sama
Rautnya ia

Dan perahu
Laut laut
Besi darat
Bisu

Apa kabar?
Cukupkah terlelap?
Dan malam malam
Dingin menjerat

Terbalaskah pelu?
Dan sengat membau
Atau meringkuk malu
Malas congkak meraja

Kapan nyatamu?
Tahun berlalu
Bayi dewasa
Lupa hadirmu


Share:

Sunday, 10 December 2017

Saturday, 9 December 2017

Soneta Dua

/ bayangku

Sedari malam ku bayangkan ini
duduk bersila di kursi tepi
pulpen dan buku ku amati
oh konvensional

akulah peniru
baca lalu perbarui
bahasakan sendiri
bahasaku

biasalah seluruh
telanjangku telanjang
bukan bilang begini maksudnya begitu
puisiku, harfiah puisi

kubayangkan aku,
duduk bersila di kursi tepi.

/ potret merindu

ia cubit pipinya
senyum kegirangan
di apit berdua
di jok tua

apitnya satu
jauh merindu
apitnya dua
beda nuansa

asalnya tawa
ini itu sama saja
siang tidur
malam terjaga

apa saja
apit bertiga
Share:

Friday, 8 December 2017

Empat Pertama

/ punah

Kanguru itu meloncat menyelam samudra
Hijau rumput adalah gurun pasir
suatu masa
ulah manusia.

/ potret

Biru hijau gemericik
Daun yang menjulur menyentuh
Satu duaaa
Kutip lagi kata mereka

/ hening abadi

mungkin apollo sudah terlalu tua
pualam itu berbeda
biru sepenuhnya putih awan
hening abadi kecuali

/ man-u-sia

sepenuhnya aku manusia
makan segala
setengahnya aku manusia
bimbang laku

Share:

Monday, 4 December 2017