Friday, 8 February 2019

PETRIKOR (7)


Bagian Ke 7 : Tergantung

Kau betah juga berlama-lama disini. 

Kenapa tidak? Katamu.

Aku membosankan mungkin. Atau kau ada keperluan lain.

Kau tidak membosankan. Sama sekali tidak. Aku justru merasa kita nyambung.

Hmmm. Aku juga merasa seperti itu. 

Kamu mau cerita sesuatu? Hari ini aku ingin menjadi pendengar yang baik. 

Apa, ya?

Apa saja. Hening. Apa saja.

Baiklah. Sebenarnya, aku mau cerita satu hal. Hal yang sangat memuakkan menurutku.

Apa itu?

Bagaimana menjelaskannya? Aku bingung. Haha. 

Jelaskan saja senyaman dan semampumu.

Hmmm. Aku benci dunia yang sekarang. Maksudku, dulu, ketika teknologi belum semaju ini, pertengkaran manusia hanya pada pusaran harta warisan atau rasa malu. Sekarang, lihatlah. Kita di pertontonkan segala hal buruk yang bukannya menimbulkan efek jerah malah jadi contoh untuk dilakukan lagi oleh orang lain. Pedofilia misalnya. Istilah seberat itu takkan terdengar ke desa-desa. Sekarang? Itu baru 1 contoh kecil. Paham, maksudku?

Kau terdengar seperti tak suka dengan kemajuan teknologi.

Bukan, bukan seperti itu. Aku suka teknologi. Aku pengguna, bukan? Yang ku permasalahkan adalah kemajuan teknologi justru membuat peradaban kita menurun. Peradaban, bukan yaa? Haha. Kita dimanjakan oleh telpon seluler. Daaaan internet. Kau bisa mendapatkan apa saja darinya. Tapi, mereka juga yang mengambil sisi kemanusiaanmu. Terkadang, aku merasa hanyalah robot. Rutinitas menjemukan. Diatur ini itu. Dan paling parah minim sosialisasi.

Tergantung orangnya menurutku.

Yap. Tergantung orangnya.
Share:

Thursday, 7 February 2019

PETRIKOR (6)


Bagian ke 6 : Tergantung Yang Membacanya

kurebahkan mimpi
tersebutlah engkau
di kaki-kaki
awal pagi

Aku suka. Kau tahu aku awam.  Baca yang berima sudah pasti suka. 

Haha. Belum tentu. Tidak semua yang mengaku awam suka yang berima. Pasti ada juga yang tak suka. Menurutku, puisi ini bahkan terlalu biasa.

Tapi, aku yang menilai bukan? Kuberi angka 4. 

Sebuah angka yang menggambarkan pertemanan kita masih dalam fase segan. Kau bisa saja memberi nilai 2 jika kita sudah dekat. Angka dari teman yang senang melihat temannya menderita. Haha.

Haha. Bisa kau ceritakan maksud puisimu itu?

Tergantung yang membacanya. Yang religius, bisa mengartikan itu tentang orang yang melaksanakan sholat shubuh dan berdo’a agar semua harapannya dikabulkan Tuhan. Yang kasmaran, bisa saja sedang memimpikan kekasihnya hingga mengigau menyebut namanya. Tergantung.

Benar juga. Semua orang bisa mencitranya berbeda. Pendapatku, itu tentang patah hati. Seorang kekasih yang menyerah memperjuangkan cintanya  tepat setelah menyebut nama kekasihnya. Kurebahkan mimpi ku maknai seperti itu.

Entahlah. Bisa juga seperti itu.

Btw, kamu tahu nomorku darimana?

Rahasia. Haha.
Share:

Wednesday, 6 February 2019

PETRIKOR (5)

Bagian ke 5 : Rupanya Kau Belum Membaca Pesanku


Pesanku baru saja terkirim. Aku mengiyakan permintaanmu. 

Hi. Kau sedang apa? Sendirian saja? Oh yah, bagaimana permintaanku? Kau bisa menolongku? Aku bahkan membawa puisiku jika kau ada waktu.

Rupanya kau belum membaca pesanku. Kau juga jelas tak tahu bahwa aku sering seorang diri ke taman ini. Aku senang mencium bau tanah, apalagi sehabis hujan. Aku senang menatap langit dan memperhatikan awan yang senang tak beraturan.

Hi. Aku sendiri, sekadar  menghabiskan waktu. Soal tugasmu, aku tak keberatan. Tapi, aku tak tahu harus menilai bagaimana. Oh yah, kau mau kemana? Kenapa tiba-tiba ada disini?

Aku malu. Aku bahkan sadar suaraku bergetar ketika berbicara. Aku jadi cemburu melihat sikapmu yang bisa sebiasa itu.

Baiklah. Santai saja. Kau hanya perlu memberi nilai dari 1-5 untuk puisiku. Makin tinggi angkanya berarti makin bagus. Oh yah, kita belum berkenalan secara  resmi hehe. Aku petrikor. Rencananya aku mau beli makanan di warung depan.

Begitu. Namaku Rikuh.

Kita berjabat tangan. Setelah itu, aku merasa terbiasa. Mungkin, lewat tanganmu yang lembut, kau telah membagiku energi positif. Ahh, sudah seperti cerita-cerita di novel saja.
 
Share: