Bagian Ketiga : Rikuh
Seperti namaku, Rikuh. Dalam situasi tertentu aku adalah
pria yang pemalu. Sangat pemalu. Itulah alasan aku selalu tunduk jika dalam
sebuah garis kebetulan kita dipaksa berpapasan. Menunggumu lewat tentu berbeda.
Karena aku bisa menunduk ketika kau sudah dalam jarak yang cukup dekat.
Seperti yang kau tahu. Aku adalah mahasiswa seni. Aku senang
bermain musik. Tapi kuyakin, kau tak tahu tentang kegemaranku membaca novel dan
puisi. Atau tentang potongan tubuhmu yang sering ku gambar tak utuh.
Sudah 6 bulan sejak pertama kali ku tahu namamu. Pun sudah
beberapa kali kita berpapasan dan berakhir dengan aku menunduk, kau saling
melempar pertanda dengan temanmu. Selain perkenalan yang masih dalam lingkaran
ketidakmungkinan, beberapa informasi tentangmu berhasil ku perbarui. Kau yang
senang dengan bunga mawar misalnya. Juga buku catatan biru yang selalu kau bawa
kemana-mana. Hingga kesukaanmu makan coklat. Tapi, bukankah tak ada wanita yang
tak suka coklat?
Entah kapan, tapi rasanya sebentar lagi kita akan diberi
kesempatan untuk saling berkenalan.