Wednesday, 22 November 2017

Mendadak Sapardi Djoko Damono



Tumpah ruah. Seketika otakku dipenuhi oleh kalimat-kalimat yang bersumber dari wanita biasa yang ku tatap beberapa menit saja. Sepanjang perjalanan pulang aku bolak balik kata-kata yang menurutku jadi gagasan utama. Suara tegas. Seragam sederhana. Dan beberapa kata lain. Aku harus secepatnya menulis sebelum kata demi kata melompat bebas dari otakku dan hilang tanpa bekas. Telat sedikit saja, semua menguap. Bahkan, apa yang kutulis saat ini bisa jadi bukanlah ide pertama yang harusnya kutulis. Sudahlah, anggap saja ini yang pertama.

Mendadak Sapardi Djoko Damono. Aku merasa kesurupan puitis. Seragam biru. Suara tegas. Akh, aku menyesal sama sekali. Andai saja kita berbicara lebih banyak dari sekedar kau mengucapkan harga yang harus ku bayar. Andai saja aku mampu mengetahui hal-hal berbau pribadi. Mungkin saja satu sore kita duduk berbincang di warung kopi. Berbagi informasi tentang kesukaan ini itu. Lalu terbawa pesona hujan dan lagu-lagu bertempo pelan. Mungkin akan berganti jadi topic romantic. Kau menatap lama lalu kita hanya terdiam. Untuk suasana tertentu, terkadang diam menjadi alat komunikasi terbaik. Tanpa suara tapi berjuta makna. Bisa saja kita sedang beradu imaji tentang pantai dan gemuruh ombak. Atau justru gunung dan hening. Akh, aku hanya mengandai dan tak beranjak dari itu.

Aku telah sampai di rumah. Menulis sisa-sisa kalimat yang ku sebut bolak balik sepanjang perjalanan. Seperti yang kukatakan diatas, mungkin saja ini bukan gagasan pertama tapi anggap saja seperti itu. Saat ini kau mungkin masih berdiri dan melayani para pembeli buku. Atau yang lain. Bersuara tegas mengucapkan harga yang harus dibayar. Tampaknya kau pekerja keras. Kudoakan kau baik-baik saja dan kerjamu lancar. Sambil berharap, sedikit banyak ada percakapan lanjutan di masa depan.
 




Share:

2 comments: