Friday, 23 September 2016

Haruskah Kita Punya Sahabat?

Setahun lalu saya mendapat sebuah wejangan dari pria paruh baya yang nampak begitu alim, namanya tak ku tahu sama seperti statusnya yang entah keluarga atau sekedar manusia lainnya. Katanya seperti ini, "Jangan pernah mempercayai orang lain termasuk yang namanya sahabat. Hari ini boleh saja dia selalu ada di susah-senangmu seperti arti sahabat yang sering di gambarkan. Tapi, ketahuilah, sahabat adalah musuh terbesarmu, musuh utamamu". Kalimatnya berakhir, beliau melanjutkan kegiatan keagamaannya. Tak ada basa-basi, wejangan dimulai, wejangan di akhiri, beliau berlalu pergi. 

Setahun berlalu semenjak wejangan yang begitu aneh pikirku. Tapi tahu? Terkadang saya berpikir bahwa itu adalah nyata. Ada begitu banyak waktu dan masalah yang ku alami berhubungan dengan wejangan itu. Kami punya masalah, aku memberi solusi dan akhirnya aku yang salah dan jadi musuh bersama. Selalu seperti itu ketika kejadian aku-kami mendapat masalah. 

Teranyar, novel fiksi karya penulis ternama yang membuatku keluar-masuk sebuah cafe hanya untuk menghilangkan rasa ingin tahu tentang kelanjutan ceritanya yang baru ku baca seperempat dari jumlah keseluruhan. 

Ada begitu banyak anjuran untuk berbagi, ada sejumlah hal yang jadi privasi. Penutup tulisan kali ini mungkin seperti ini, bacalah buku sebanyak mungkin, bersosialisasi sesering mungkin. Jangan bergantung pada orang lain.
Share:

Thursday, 22 September 2016

Masih Tanpa Judul

Malam ini bulan nampak bulat sempurna, cahayanya terang kekuningan seolah menantang gemerlap cahaya dunia malam perkotaan. Langit cerah, bintang berserakan entah membentuk rasi bintang apa. Jam 7 malam tepat dan aktifitas masih padat merayap, tak kalah dengan macet yang senantiasa terjadi ketika sabtu malam tiba, saat di mana tempat hiburan menjadi tujuan utama. Mirvath sudah berada di pojokan Komunikafe, salah satu café tempat nongkrong di sekitaran Aluddin 2 Makassar. Cafe itu adalah salah satu tempat favorit Mirvath, entah sekedar meminum greentea atau kopi susu, atau mengerjakan tugas mingguan yang harus di kirim lewat aplikasi google classroom.

Mirvath mengenakan kaos oblong hitam, celana jeans longgar biru tua serta sepatu kanvas hitam kw produk bermerk ternama. Mirvath sendiri dan duduk di pojokan seperti biasa, memesan greentea dingin dan bercakap seperlunya dengan bartender Komunikafe. Malam ini malam pertama Mirvath kembali ke kota Makassar setelah 4 hari di kota Jeneponto mengurus survei lapangan salah satu mata kuliahnya. Kulitnya gosong dan semakin berjerawat, pertanda kebanyakan bersinggungan dengan sinar matahari langsung serta debu jalanan.

Greenteanya di minum sedikit-sedikit, aroma dan rasa yang pas, tak terlalu manis untuk menghindari diabetes turunan ibunya. Mirvath masih mengingat jelas malam terakhir di kota Jeneponto, Cahaya masih di desa seberang ketika teman-teman yang lain sudah di kantor Camat Kecamatan Turatea, tempat perjanjian untuk bertemu dengan rombongan. Wahyu, dosen yang menjadi penanggung jawab kegiatan masih berusaha memperbaiki mobil sewaan yang tiba-tiba rusak ketika melalui jalanan terjal, hujanpun masih deras dan tak kunjung memberi pesan akan berhenti.
Sudah lewat 2 jam dan Kak Wahyu masih mencoba memperbaiki mobil sewaan, siapapun cowok yang memiliki motor ikut saya ke desa Paresengangberu, kita jemput teman kita di sana. Muka Mirvath nampak pucat pertanda kelelahan. Aku harus menyelesaikan tugas terakhir sebagai ketua panitia survey lapangan dengan baik, pikirnya.Hujan sudah mereda namun udara malam cukup dingin, terlihat dari tubuh Mirvath dan 7 teman lainnya yang gemetar selama perjalanan. Jalan yang berlubang serta deretan sawah luas yang di lalui membuat perjalanan seolah sangat sepi, apalagi jumlah rumah warga yang bisa di hitung jari. Nampak rumah panggung dengan mobil berwarna merah yang tak nampak merknya. Di sisi kiri terdapat tangga, 2 orang baru saja keluar rumah dengan membawa kue tradisional pertanda akan ada warga sekitar yang menikah. Di teras rumah sudah menunggu Cahaya dan 5 teman kelompoknya yang mayoritas wanita, Pak Desa serta Bu Desa dan beberapa aparat desa lainnya. Mirvath menghampiri mereka dengan senyum di buat-buat demi menjaga norma keramahan.

Maaf *Karaeng sudah menunggu,mobil yang di tumpangi dosen saya mogok dan sedang dalam perbaikan. 

Terima kasih telah menerima teman-teman saya dengan baik, kami akan pamit dan balik ke Makassar malam ini, kata Mirvath dengan senyum yang masih di buat-buat. 

Tak apa, kalian justru telah membantu saya dan aparat desa lainnya dengan survey yang kalian lakukan di desa kami. Terima kasih dan selamat sampai tujuan, jawab Pak Desa.

Tanpa arahan Mirvath dan yang lainnya menyalami Pak Desa dan aparat lainnya kemudian berlalu menuju tunggangan besi mereka yang nampak basah sisa hujan di perjalanan tadi.

Seolah mengerti akan kedekatan antara Cahaya dan Mirvath, teman-teman Mirvath berboncegan satu sama lain dan membuat tak ada pilihan lain selain Mirvath dan Cahaya harus berboncengan menuju kantor Camat Kecamatan Turatea. Hujan masih rintik-rintik dan malam semakin larut.Tak ada pilihan, mereka harus ngebut.

Berhenti sebentar, aku mau memperbaiki posisi dudukku, aku tak biasa di bonceng menggunakan rok, keluh Cahaya.

Mirvath menghentikan laju motor dan menatap temannya yang hanya menyisakan lampu belakang motor di kejauhan.

Kemarin katanya kau pingsan,tidak sarapan? Mirvath coba mencairkan kebekuan.

Iya,kemarin aku pingsan. Padahal aku sarapan dan sangat bersemangat, tapi matahari terlalu terik dan akhirnya aku merasa kurang baikan.

Kasihan, itu karena kamu tak mendengarkan nasihatku. Kan sudah ku suruh bawa madu untuk menambah staminamu, apalagi kamu memang jarang olahraga dan luas daerah yang akan di survei sangat luas.

Cahaya hanya tersenyum.

Mari lanjutkan, yang lain juga sudah tak nampak. 

Malam kian larut dan hujan tetap bersikukuh untuk membasahi malam, dan untuk pertama kalinya Mirvath mendapat pelukan dari wanita yang 1 bulan terakhir di dekatinya.

Suara gelas pecah yang di jatuhkan oleh seorang remaja berkumis tipis menyadarkan Mirvath dari lamunannya. Semua tatapan tertuju pada remaja yang menjatuhkan gelas berisi red velvet yang masih tersisa setengah gelas itu. Remaja berkumis tipis itu kemudian menuju toilet untuk membersihkan noda merah bekas red velvet yang begitu kontras dengan kaos oblong putihnya, sementara Said sang bartender membereskan sisa pecahan agar tak terinjak oleh siapapun. Suasana Komunikafe kembali kondusif, pengunjung lain kembali ke kesibukan masing-masing. Jam dinding coklat bulat yang terpajang di atas rak buku sudah menunjukkan pukul 11, Mirvath menghabiskan greenteanya yang semakin kehilangan rasa manis akibat es yang sudah mencair, berjalan pelan menuju kasir, membayar greentea yang di minum habis, tersenyum kepada Said lalu pulang dengan Skydrive Emas yang sudah di kendarai 5 tahun terakhir.

Share:

Pisau Kata

Gelang kusam di lingkaran kanan tanganku, topi biasa pabrikan terbaik lapak kecil, kaos hitam selaras kanvas hitam menutupi kaki, celana biru dengan sisa parfum loundry-nya, sedikit style terbaik di awal malam.

Sebut diriku Rama, jumpai aku di sudut ruang pola warna, komunikafe di beberapa meter sultan alauddin. Para pelayan tentu sudah kenal diriku, remaja pendiam yang banyak menghabiskan malam berdua dengan maya, suara-suara sumbang di sudut koneksi diam. Malamku sedikit di ganggui rasa janggal itu, segenggam rasa di ujung jemariku, kau yang tak hanya berada dalam detektor tuaku. Kau belum juga membaca pesanku, entah kau dengan janji yang kau sebut semalam, atau sesuatu yang begitu jauh dalam pandanganku, aku hanya khawatir, sejumput rasa tuntutan hati, kau masih dengan sikap ramah mu.

Ku seduh kopi susu ini, satu rasa yang baru ku decap lagi. Alunan lagu Aksi Madewa, temanku, guruku, menghujam sadarku. Bius ini sungguh menjerat dayaku, satu tetesan air mata beku di balik pintu kaca hitam. Mungkin inilah nikmat cinta yang sedulu ku rindu, satu hembusan nafas ku senyum, satu hembusan lagi ku menelan jarum. Aku cinta keadaan ini, aku cinta! Satu waktu teriakku dalam diam, dua waktu tawaku riang. Aku hidup! Patahku sadarkan hidup! Normalnya, tangisku dalam lagu dan pelukan rhythm gitar di penghujung ruang akan mengalir seperti biasa, hanya cintaku itu tak lagi disini, tinggalkan aku sendiri dengan setumpuk rasa dan beban, ku palsukan senyum di setiap tanggungan.

Kau tahu, sunggingan senyum ku toreh di topeng kesekianku, aku dan hitamku dalam kesendirian ramai malam ini, hanya  berbagi rasa dengan tulisan ini. Kau tahu,semua yang membaca tulisan ini hanya akan menyindir,aku cowok alay, cengeng, terlalu melow. Tak apa,toh mereka takkan mengerti, aku nyaris tak menjumpai satu jenis aurapun yang mampu sucikan auraku, sekedar anggukan sok mengerti dan tak ada lagi.Kedamaian sesungguhnya ku dapati dalam alunan melodi, raungan konsep lagu, dan setumpuk kata ini. Teman tersetia dalam segala cinta.

Entahlah,aku bingung dengan alur cerita malam ini. Tapi setidaknya terima kasih untukmu yang memberiku arti hidup.

Love,life,music!
Share:

Kota Di Lilit Dasi

Aku anak laut
Usah surut semangatku melaut
Nyaris usia berpacu dengan ombak
Berdesir lirih tatkala karang melabrak

Aku anak laut
Enggan beralih jauh dari laut
Nyinyir nyanyian burung menjemput
Senjaku merah kini hitam sejumput

Masin udara tepian lautan
Putihnya pasir tanpa kresekan
Kokohnya karang nemo menari
Riang nelayan menyongsong hari

Ikon kotaku sebentar lagi di ganti
Reklamasi,oh reklamasi.
Sudah berkumis dan berdasi
Masih saja tuli dan menutup hati
Share: