Ini adalah kunjungan pertama di tahun ini. Kunjungan pertama di tempat yang jadi pelarian ketika ingin menulis kisah-kisah patah hati 3 tahun silam. Tempat yang jadi saksi bisu betapa nikmatnya patah hati diisi tulisan, kopi dan musik yang langsung ku jejalkan di kepala via earphone.
Tempatnya sudah berubah. Susunan kursi dan cat dinding yang sepenuhnya putih memberi kesan berbeda. Kucing yang berbaring acuh di atas kursi di depanku menarik perhatian. Apa yang dirasakan seekor kucing ketika dia sedang tertidur tapi manusia di sekitarnya bercerita dengan suara keras? Apakah kucing berdaptasi demi bisa hidup di sebuah coffeeshop dan mendapatkan sisa makanan dengan merelakan telinganya dijejalkan suara-suara bising terus menerus?
Adaptasi, adaptasi. Sepertinya aku sebagai manusia justru gagal beradaptasi dengan lingkungan baruku 2 bulan belakangan. Tinggal serumah dengan 3 orang wanita ternyata tidak selamanya mudah dengan asumsi ada yang mengurus makanan. Tinggal serumah dengan 3 wanita rupanya memiliki arti lain dimana hal-hal yang biasanya bukanlah masalah ketika sendiri justru bisa berubah menjadi masalah di mata wanita. Tidur pagi, memutar musik terlalu keras, keluar tiap malam bahkan ketika baru mulai bercerita lalu di potong dengan alasan terlalu banyak bicara benar-benar menjengkelkan dan mengoyak perasaan ku.
Di saat tertentu, sempat terpikir untuk pergi dan memilih tinggal sendiri tetapi seperti kucing yang mencoba beradaptasi demi mendapatkan makanan dan merelakan telinganya dijejalkan suara-suara bising terus menerus, saya juga harus beradaptasi dan merelakan wilayah-wilayah yang sebelumnya milik pribadi direcoki terus-menerus demi mendapatkan tujuan awal yaitu seikat uang untuk berfoya-foya.

kalau tujuan si kucing apa yah? mungkinkah ia rela demi bertahan hidup? atau kah juga untuk berfoya-foya?
ReplyDeleteMembeli para bucin a.k.a. budak kucing dgn keunyuan.
Deletetujuan si kucing nunggu si sadboy datang kembali berkunjung
Delete